14 IMAM DALAM MEMBACA AL-QUR'AN
Selasa, 28 Mei 2019
Add Comment
![]() |
al-Qur'an tertua di Asia Tenggara, |
Umar bin al Khaththab RA bercerita,
“aku pernah bertemu dengan Hisyam bin Hakim bin Hizam yang sedang membaca surat
al-Furqon semasa Rasulullah SAW hidup. Aku mendengarkan bacaannya. Tiba-tiba, ia
membaca banyak huruf yang belum pernah dibaca oleh Rasulullah SAW kepadaku.
Hampir saja aku menyergapnya saat ia sedang sholat. Lalu, aku menunggunya
hingga ia mengucapkan salam, aku menarik gamis dilehernya. “Siapakah yang
mengajarkan bacaan surat itu padamu? Aku tak penah mendengarkan surat yang baru
kau baca tadi?”, kataku. Ia menjawab, “Rasululloh SAW yang membacakannya
kepadaku”. Aku menyanggah, “kamu berdusta. Demi Allah, sesungguhnya Rasululloh
benar-benar telah mengajarkan bacaan tadi kepadaku”. Akhirnya aku menggandeng
pergi menghadap Rasululloh SAW. Aku berkata, “Wahai Rasululloh, sungguh aku
telah mendengarkan orang ini membaca surat al-Furqon dengan huruf-huruf yang
belum pernah Engkau bacakan kepadaku, sementara anda telah membacakan kepadaku
surat al-Furqon dengan huruf-huruf yang lain”. “Lepaskanlah dia, wahai
umar.”kata Nabi SAW, “Bacakan wahai Hisyam”. Dihadapan Nabi SAW, Hisyam
membacaka surat yang telah aku
dengarkan. Nabi SAW berkata, “Begitulah surat al-Furqon diturunkan”. Setelah
itu Nbi SAW berkata kepadaku, “Bacalah wahai Umar”. Aku pun membacakan surat
al-Furqon yang pernah dibacakan Nabi SAW kepadaku. Kata Nabi SAW , “Begitu pula
surat al-Furqon diturunkan dengan tujuh huruf. Karenanya bacalah apa yang mudah
darinya” {Al-Turmudzi, 2015: IV:433-434 No. 2952: al-Nasa’i, 2005: I:
161:No.932: Malik bin Anas,bab Ma Ja’a fi
al-Qur’an}.
terletak di desa Lerabeing Alor NTT |
Hadist diatas menunjukan adanya
banyak cara membaca al-Qur’an. Keragaman bacaan itu bukan berarti kelemahan
al-Qur’an, tapi justru menunjukan kelabihannya. Jika bacaan al-Qur’an diseragmkan,
tentu hal ini mempersulit umat islam dalam membacanya. Nabi SAW pernah
megkhawatirkan hal ini dan menanyakan pada Malaikat Jibril, “Wahai Jibril,
sungguh aku diutus kepada umat yang banyak dari golongan buta huruf, diantara
mereka ada nenek-nenek, kakek-kakek, anak-anak laki-laki, anak-anak perempuan, dan
orang-orang yang belum bisa membaca tulis sama sekali”. Jibril menjawab, “Wahai
Rasululloh, sesungguhnya al-Qur’an diturunkan dengan huruf tujuh”
{Al-Tirmidzi,2005:IV:343:No.2953}. Istilah tujuh huruf dalam hadist ini dapat
diartikan banyaknya logat, susunan kata, atau macam-macam kata {al-Sabuni,
1985:220-222}.
Dalam mengajarkan bacaan al-Qur’an
kepada para sahabat, Nabi SAW memilihkan bacaan yang sesuai dengan logat
sahabat. Tidak sedikit sahabat yang memahami macam-macam bacaan dari Nabi SAW.
Karenanya, sahabat yang satu dengan yang lainya berbeda dalam membaca
al-Qur’an. Meski demikian para sahabat mempelajari macam-macam bacaan dan
memahami adanya perbedaan tersebut. Selain mereka mengetahui secar langsung
dari Nabi SAW, bacaan yang berbeda itu tidak merubah arti dan maksud al-Qur’an,
sehingga mereka tidak memperebatkannya. Namun, persoalan aneka bacaan ini
muncul ketika perbedaan bacaan semakin meluas dan menimbulkan perselisihan yang
tajam. Untuk itu ide penyatuan macam-macam bacaan pada masa Khalifah Usman RA
menjadi kebijakan yang sangat tepat.
Semula naskah al-Qur’an ditulis
dalam aneka bacaan, lalu Khalifah Usman memerintahkan agar diteliti kembali dan
diseragamkan dengan satu bacaan saja yaitu bacaan Quraisyi. Kebijakan
penyeragaman bacaan ini merupakan solusi atas semakin meluasnya macam bacaan
al-Qur’an. Namun demikian, Khalifah Usman tidak pernah melarang macam bacaan
diluar Mushaf al-Qur’an yang telah resmi ditetapkan. Khaliifah tidak akan
membuat larangan untuk esuatu yang diperbolehkan oleh Allah SWT.
Muskhaf al-Qur’an yang telah ditetapkan
dan dikirim Khalifah Usman ke beberapa
daerah juga disesuaikan dengan bacaan yang dianut masyarakat setempat. Saat
itu, tulisan belum dilengkapi dengan tanda huruf dan tanda baca, sehingga kata nunsyizuha dibaca nunsyiruha sebab bentuk ra dan za sama.
![]() |
diperkirakan usianya 1000 Tahun |
Dengan telah dibukukanya al-Qur’an oleh
Khalifah Ustman yang telah memberikan toleransi perbedaan bacaan tersebut, maka
semua bacaan al-Qur’an yang ada harus sesuai dengan Muskhaf al-Qur’an yang
telah ditetepkan tersebut. Jika terjadi perbedaan bacaan tapi tidak sampai
merubah makna secara mendasar, maka bacaan tersebut bisa diterima. Misalnya,
kata “Maalik” yang berarti pemilik dengan kata “Malik” yang berarti raja tidak
berbeda jauh. Raja adalah pemilik kekuasaan.
Pedoman berikutnya adalah bacaan
tersebut tidak bertentengan dengan kaedah bahasa arab. Kaidah bahasa arab yang
telah dirumuskan oleh Abu al-Aswad al-Duali pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib
RA banyak mengacu pada bahasa arab al-Qur’an. Obyek kajian bahasa arab
pembentukan kata (ilmu shorof) dan pembentukan kalimat (ilmu nahwu). Kesalahan
dalam pembentukan kata maupun kalimat bisa berdampak pada perubahan makna
termasuk makna al-Qur’an.
Selain dua metode diatas, bacaan
al-Qur’an harus diperkuat oleh sumber-sumber guru yang bersambung kepada Nabi
SAW. Ini merupakan satu syrat untuk menilai suatu bacaan. Kekuatan atau kualitas
sumber tersebut terletak pada banyaknya
orang yang menyepakati suatu bacaan. Semakin banyak, semkain kuat. Bacaan al-Qur’an
yang berdasar dari banyak sumber, sangat kecil kemungkinan terjadi bacaan yang
tidak valit. Selain itu, kepribadian dan kecerdasan sumber berita bacaan al-Qur’an
jiga menjadi pertimbangan utama. Semakin terpuji kepribadian dan kecerdasannya,
semakin valid bacaannya.
Berdasar ketiga pedoman seleksi
bacaan al-Qur’an di atas, ada tujuh bacaan yang dipandang memenuhi syarat, yaitu:
1.
Bacaan
versi Nafi’. Penyebaran di Madinah. Nama lengkap maha guru bacaan al-Qur’an
adalah Imam Nafi’ bin Abd al-Rohman bin Abi Nu’aim (W 169 H). Ia belajar bacaan
dari “Ali bin Ja’far, Abd al-Rahman bin Hurmuz, Muhammad bin Muslim al-Zuhri.
2.
Bacaan
versi Ibn Katsir. Penyebarannya di Makkah. Nama lengkap beliau Abdulloh bin
Katsir al-Makki (45-120 H). Ia belajar kepada Tabi’in Abdulloh bin al-Sa’ib,
Mujahid bin Jabir, dan Dirbas. Abdulloh bin sa’ib adalah murid dari Ubay bin Ka’ab
RA. Dan Umar bin Khottob RA. Mujahid bin Jabir dan Dirbas adalah murid dari
Abdulloh bin Abas RA. Ibn Abbas
mendapatkan pelajran dari Ubay bin Ka’ab RA dan Zaid bin Tsabit RA.
3.
Bacaan
versi Abu Amr. Penyebarannya di Basrah, Irak. Nama lengkap beliau Abu Amr Zaban
bin al-‘Ala bin Amr bin Amma al-Syamy (68-154 H). Ia belajar dari Abu Ja’far
Yazid bin Qa’qa’ dan Hasan al-Basri, murid dari al-Haththan dan Abu al-Aliyah.
Abu al-Aliyah belajar dari Shahabat Umar bin Khathob RA dan Ubay bin Ka’ab RA.
4.
Bacaan
versi Ibn Amir. Penyebarannya di Damaskus, Syiria. Nama lengkap beliau adalah Abdulloh
bin Amir al-Yahshabi (8-118). Ia seorang hakim di damaskus pada masa khalifah
al-Walid bin Abdul al-Malik. Amir belajar dari al-Maghirah bin Abi Syihab
al-Makhzumi dan Abu Darda RA.al-Maghirah belajae kepada Usman bin Affan RA.
5.
Bacaan
versi Ashim. Penyebarannya di Kuffah, Irak. Nama lengkap beliau adalah Ashim
bin Abu al-Najub al-Asady (w 127 H). Ashim belajar dari Abu Abd al-Rahman
al-simi, seorang murid dari lima Sahabat Nabi SAW: Abdulloh bin Mas’ud, Usman
bin Affan, Ali bin Abi Tholib, Ubay bin Ka’ab, dan Zaid nin Tsabit.
6.
Bacaan
versi Hamzah. Penyeberanya di Kuffah. Nama lengkap beliau adalah Hamzah bin
Habib bin ‘Imarah (80-156 H). Ia hidup di masa khalifah Abu Ja’far al-Manshur. Ia
belajar dari Ali Sulaiman al-A’masy, Ja’far al-Shadiq, Hamran bin A’yan, Mnhal
bin Amr meeka adalh dari golongan sahabat.
7.
Bacaan
versi al-Kisai. Penyebarannya di Kuffah. Nama lengkap beliau adalah Ali bin
Hamzah al-Kisai (w 189 H). Ia belajar dari Hamzah, Iamail bin Ja’far, Syu’ba
dan kesemuanya bersambung pada Nabi SAW.
Tidak
sedikit ulama’ yang masih mempertahankan dan mengajarkan macam-macam bacaan
al-Qur’an. Mereka menamakannya denag nama “ilmu Qira’ah, yakni ilmu tentang
cara mengucapkan kalimat-kalimat al-Qur’an dan perbedaannya serta menyatakan
kejelasan sumbernya sambung menyambung sampai kepada Kanjeng Rosul Muhammad
SAW. Pada ke dua Hijriyah pula, ilmu Qira’ah ini dibukukan. Diantara ulama’
yang menulis buku yang dijadikan standar bacaan al-Qur’an adalah Abu Ubaid
al-Qasim bin Sallam, Abu Ja’far al-Thabari, dan Abu Hatim al-Sijistani.
Selain ketujuh versi bacaan di atas, ada
beberapa versi lain, yaitu “10 bacaaan” yakni tujuh versi bacaan tersebut di
tambah tiga versi lain, yaitu:
1.
Abu
Ja’far Yazid bin Qa’qa’ (w 130 H) di Madinah
2.
Abu
Muhammad Ya’qub bin Ishaq Al-Hadlary (w 205) di Basrah.
3.
Abu
Muhammad Khalaf bin Hisyam Al-Masyi (w 299 H) di Baghdad.
Ada
juga versi “14 bacaan” yaitu sepuluh bacaan tersebut di tambah empat versi
lagi, yaitu:
1.
Hasan
Al-Bashry (w.110 H).
2.
Ibnu
Muhaish (w. 123 H).
3.
Yahya
ibn Mubarok Al-Yazidi (w. 202 H) di Baghdad.
4.
Abul
Faraj Ahmad al-Syambudzy (w. 388 H) di Baghdad.
Namun,
kualitas atau validitas semua versi tidak sekuat validitas versi “7 bacaan”.Meskipun
diperbolehkan membaca al-Qur’an dengan mengikuti salah satu dari tujuh versi
bacaan di atas di luar versi mushaf al-Qur’an, namun hal-hal berikut ini perlu
diperhatikan:
1.
Bacaan
tersebut tidak membuat kerisauan di kalangan umat islam.
2.
Bacaan
tersebut harus benar-benar dari salah satu tujuh versi bacaan.
3.
Bacaan
dalam satu ayat harus tetap dalam satu versi, tidak boleh pindah pada versi
yang lain. Abdullah bin Mas’ud RA berpsan “barang siapa yang membaca al-Qur’an dalam
satu versi bacaan, maka jangan sekali-kali pindah ke versi bacaan lainnya” (Abu
Zar’ah Hazim).
4.
Pembaca
harus benar-benar mengetahui ilmu tentang bacaan al-Qur’an.
Di antara hikmah di balik
banyaknya macam bacaan al-Qur’an adalah sebagai berikut:
1.
Untuk
memberikan kemudahan bagi umat Islam, khususnya bangsa Arab, dalam membaca
al-Qur’an.
2.
Mempersatukan
umat islam di kalangan bangsa arab saat itu.
3.
Menunjukan
kelebihan umat Nabi Muhammad SAW dari umat Nabi-Nabi sebelumnya, karena kitab
suci yang du turunkan sebelumnya Nabi SAW hanya terdiri dari satu versi bacaan.
4.
Membuktikan
terpeliharanya al-Qur’an dari upaya
perubahan maupun penggantian .
0 Response to "14 IMAM DALAM MEMBACA AL-QUR'AN"
Posting Komentar